Stasiun Gubeng Surabaya


28 Mei 2011


     Sore hari yang cerah, kami sekumpulan orang-orang penghuni ruang baca sedang mengalami kebingungan. Kenapa, karena kita sedang ingin foto-foto seperti saat ke Hutan Mangrove di Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya) dulu. Namun, masalahnya kita sedang kebingungan menentukan tempat lokasi yang asyik buat foto-foto sore hari. Dan saya pun mengusulkan untuk hunting kereta api aja di Stasiun Gubeng.. he3 (aslinya sih yang kepingin ke stasiun sayaa.., eh mereka mau, ya beneran deh kalo gitu.. :p) Akhirnya yang ikut bersama kami mas Rudy, mas Basma dan saya sendiri tentunya sebagai tour guide mereka.. he3

     Saat itu kami pun langsung menuju area parkiran Stasiun Gubeng baru dan segera bersiap-siap untuk menuju loket membeli tiket peron masuk stasiun seharga 2500 rupiah. Setelah sampai di dalam, di jalur 6 akan masuk KA Mutiara Selatan dengan tujuan akhir Stasiun Bandung, di jalur 2 telah tersedia KA komuter SuSi (Surabaya- Sidoarjo). Kami pun berjalan menuju peron 5 dan berusaha mengambil moment kedatangan KA tersebut.



KA Mutiara Selatan bersiap masuk di jalur 6 Stasiun Gubeng
(Dok : Pribadi)

     Setelah mendapatkan moment tersebut, kami bersiap untuk jalan kaki ke arah utara karena selepas KA Mutiara Selatan berangkat, akan datang KA Bima dari arah stasiun Surabaya Kota. Saat itu juga, rangkaian KA komuter SuSi diberangkatakan dari jalur dua menuju Stasiun Surabaya Kota.
KRDE SuSi berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Gubeng
(Dok : Pribadi)
    Akhirnya setelah penantian cukup lama dari kejauhan telah tampak KA Bima sedang berjalan pelan masuk menuju jalur 6. Kami pun bergegas mencari posisi yang strategis untuk mendapatkan angle yang bagus. 


KA Bima (Biru Malam) bersiap masuk stasiun Gubeng
(Dok : Pribadi)


     Sekilas mengenai KA Bima, KA ini termasuk salah satu KA unggulan yang dimiliki oleh PT Kereta Api (persero) karena merupakan satu-satunya KA eksekutif yang melayani koridor Surabaya hingga Jakarta via Yogyakarta yang berjarak 825 km dan ditempuh sekitar 13 jam. KA ini telah beroperasi sejak Maret 1967 yang pada saat itu merupakan KA eksekutif pertama di Indonesia. 
    Pada awal permulaanya, KA ini memiliki fasilitas tempat tidur karena mengingat lamanya perjalanan yang ditempuhnya, namun sejak 9 Juni 1990 KA ini tidak lagi memakai tempat tidur, hanya kursi seperti yang sudah diketahui hingga saat ini. Nama Bima yang berarti Biru Malam, diambil berdasarkan saat perjalannya, dimana saat berangkat sore langit masih kebiruan dan tiba keesokan harinya dengan menembus dinginnya malam hari. Selain itu nama Bima juga berarti sebagai tokoh pewayangan yang berakarakter tubuh tinggi besar, kokoh, kuat dan pemberani.  
Post a Comment
copyright dikamedia | 2016. Theme images by diane555. Powered by Blogger.