2 days trip : Denpasar


Perjalanan ini diawali dengan keinginan saya untuk mencoba rute perjalan KA menuju kota Denpasar, Bali dengan transportasi kereta api. Ya, kereta api. Setidaknya itulah yang ditawarkan oleh PT Kereta Api Indonesia kepada pelanggannya. Mungkin banyak yang bingung dan tidak tahu ada rute kereta api tujuan Denpasar, karena kan di Bali ngga ada rel kereta, tapi kok bisa ada kereta tujuan Denpasar ya..?
Rasa penasaran itulah yang mendorong saya untuk mencobanya, hitung-hitung juga sambil jalan-jalan ke pulau dewata.. Ha..ha..ha..

Saya akhirnya beranjak menuju loket stasiun surabaya gubeng untuk reservasi tanggal keberangkatan saya dan juga tanggal kembali. Pilihan jatuh pada Hari Jumat malam, dimana tiket yang saya pesan ialah kereta Mutiara Timur malam yang berangkat pukul 10 malam dan tiba di stasiun Banyuwangi hari Sabtu jam setengah 5 pagi dan dilanjut hingga kota Denpasar menggunakan armada bus Damri. Tiket kembali juga saya pesan sekaligus agar tidak repot saat akan kembali ke Surabaya.

Hari yang dinantikan telah tiba,
saya bergegas menuju stasiun Surabaya Gubeng karena kereta Mutiara Timur malam yang saya naiki sudah tersedia di jalur enam peron stasiun Gubeng. Setelah proses boarding di stasiun selesai, kini saatnya mencari kursi yang sesuai dengan tiket yang saya pesan. Kondisi kereta saat itu tidaklah terlalu ramai penumpang dan interior KA Mutiara Timur cukup bagus meskipun ada kekurangan banyak dibandingkan dengan kelas sejenis tujuan Jakarta atau Bandung. Setelah menata tas dan kursi saya lanjutkan dengan istirahat di tempat duduk sembari menunggu kereta diberangkatkan jam sepuluh tepat waktu stasiun Gubeng. Saat kereta Mutiara Timur telah berangkat, saya memutuskan untuk tidur, mengingat baru sekitar jam 5 nanti kereta Mutiara Timur akan sampai di stasiun Banyuwangi.

Singkat cerita, saya telah sampai di stasiun Banyuwangi dan saya bergegas untuk berjalan ke pintu keluar, di halaman luar stasiun telah menunggu bus DAMRI tujuan Denpasar bagi para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke pulau dewata. Bagi yang memiliki tiket KA Mutiara Timur tujuan akhir Denpasar hanya perlu menunjukkan tiket kereta api kita sebagai pengganti karcis bus Damri dan biaya penyebrangan kapal laut. Saat penumpang tujuan Denpasar telah masuk semua, perlahan bus melaju menuju pelabuhan Ketapang dan menunggu otoritas pelabuhan memberikan lampu hijau untuk masuk kapal feri. Selepas bus parkir di dalam kapal, kita diperbolehkan untuk turun dan menikmati keindahan selat Bali dari atas kapal. Penyebrangan kapal laut itu memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangan yang tersaji saat itu sungguh menakjubkan, karena kita dapat menyaksikan matahari terbit dari ufuk timur.

Akhirnya kapal telah sampai di pelabuhan Gilimanuk, kita diwajibkan untuk berjalan kaki menuju gerbang pemeriksaan guna melihat identitas kita sesuai dengan KTP atau tidak. Hal ini dilakukan untuk mencegah kejadian hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan masyarakat banyak nantinya. Setelah proses pemeriksaan identitas selesai dilakukan, kini saatnya melanjutkan perjalan darat menggunakan bus Damri menuju kota Denpasar. Selama perjalanan pemandangan yang tersaji juga cukup indah, pematang sawah, melintasi jalan dengan laut pesisir di sebelah kita, jalan yang berkelak-kelok. Beberapa kota kecil yang dilalui juga cukup menawan dan terlihat cukup bersih dan rapi. Lama perjalan dari pelabuhan hingga mendekati kota Denpasar sekitar 2 jam. Ada perbedaan antara jam lokal dengan jam yang saya pakai, jam lokal berbeda sekitar satu jam lebih cepat dibandingkan dengan jam saya. Karena di Bali menganut jam WITA (Wilayah Indonesia Tengah).

Dan akhirnya bus Damri perlahan namun pasti telah mendekati kota tujuan akhir yakni Denpasar. Sebelum masuk kedalam kota Denpasar, terlebih dahulu bus Damri berbelok ke terminal Ubung untuk pemberhentian yang pertama. Tidak lama kami berhenti di terminal tersebut, bus lanjut berjalan menuju  pusat kota Denpasar menuju pemberhentian terakhir markas bus Damri yang terletak di jalan Diponegoro. Disanalah saya akan turun untuk melanjutkan perjalanan di sekitar kota Denpasar nantinya. Setibanya di sana, saya melangkahkan kaki menuju tempat makan di sekitar sana untuk sarapan pagi. Setelah sarapan selesai, saya memutuskan untuk berjalan kaki berputar2 kota Denpasar, dengan berjalan kaki kita bisa melihat suasana sekitar lebih jelas dibandingkan jika kita naik kendaraan bermotor.

Puas berkeliling jalan demi jalan, kini saatnya beranjak menuju daerah Kuta. Jarak yang ditempuh dari kota Denpasar menuju Kuta sekitar 10 km. Berjalan kaki melintasi sepanjang jalan Teuku Umar dilanjutkan dengan belok ke kiri di jalan Imam Bonjol hingga mengarah ke persimpangan Sunset Road dan Imam Bonjol. Lanjut hingga jalan Raya Kuta dan tembus menuju pantai Kuta. Jalan kaki selama satu jam lebih sepanjang kurang lebih 10 km cukup melelahkan karena kondisi jalan yang ramai kendaraan bermotor dan cuaca yang cukup menyengat membuat saya bercucuran keringat. Kenapa ngga naik taxi atau ojek ? Nah, itung-itung ngirit lah, sekalian biar tahu rasanya jalan kaki di pulau Dewata ha..ha..ha...

Setelah tiba di pantai Kutha, saya merebahkan diri di pantai untuk sekedar meluruskan kaki karena cukup letih berjalan dari Denpasar hingga Kuta. Cukup lama saya beristirahat di pantai Kuta sambil menikmati pemandangan laut selatan dan juga para turis mancanegara maupun domestik yang ada saat itu, saya baru beranjak kembali setelah saya merasa cukup kuat untuk melanjutkan jalan-jalan melihat keramaian jalan Legian yang terkenal banyak kafe-nya dan juga monumen peringatan bom Bali I dan II. Tidak ketinggalan pula saya berjalan kaki menuju galeri kaos kata-kata yang cukup terkenal yaitu Joger.

Puas berkeliling seputaran Kuta dan juga mengunjungi berbagai macam tempat yang fenomenal di Kuta, saya yang tidak berencana untuk menginap hanya sekedar ingin jalan-jalan memutuskan untuk beristirahat kembali di pantai Kuta sambil menunggu waktu hingga pukul 11 malam waktu Bali. Karena bus Damri yang sejatinya akan membawa saya kembali menuju Banyuwangi akan berangkat hari Minggu jam satu dini hari waktu Bali. Saya lebih memilih armada taxi untuk mengantarkan saya dari pantai Kuta menuju jalan Diponegoro kota Denpasar daripada harus berajalan kaki kembali, karena kondisi saya sudah cukup lelah.

Setibanya di lokasi, saya segera melapor kepada petugas bahwa saya merupakan penumpang kereta api Mutiara Timur pagi yang berangkat dari kota Denpasar, setelah proses pemeriksaan saya bergegas untuk mencari tempat duduk yang ada. Penumpang pagi itu hanya sedikit sekali tidak sampai 5 orang. Sebelum bus Damri berangkat menuju pelabuhan, terlebih dahulu berbelok kearah terminal Ubung untuk menunggu penumpang yang lainnya. Kondisi jalan saat itu tidak terlalu ramai, karena memang jam 1 dini hari tidak seramai saat berangkat kemarin, hanya terlihat beberapa bus pariwisata yang melintas searah maupun sebaliknya.

Tiba di pelabuhan jam 5 pagi waktu Bali, tidak banyak aktivitas di pelabuhan yang bisa saya amati. Karena kondisi yang gelap dan juga cuaca sedikit gerimis. Saya memilih untuk tidak turun dari bus Damri karena saya ingin melanjutkan istirahat saya hingga nanti tiba di stasiun Banyuwangi. Kereta api Mutiara Timur pagi yang akan saya naiki sebenarnya akan berangkat pukul 9 pagi, namun memang untuk antisipasi jika ada kemacetan di pelabuhan maka pihak bus Damri memutuskan untuk memberangkatkan busnya dini hari. Hal tersebut bisa dimaklumi mengingat kalo musim liburan memang kondisinya bisa macet parah hingga hitungan jam.

Singkat cerita, setibanya di stasiun Banyuwangi saya tidak langsung masuk stasiun karena saya mau mencari sarapan terlebih dahulu, toh pun kereta yang akan saya naiki juga masih lama berangkatnya. Saya masih punya banyak waktu untuk jalan2 di sekitar stasiun dan mencari warung yang bisa saya datangi. Cukup banyak warung yang bertebaran di sepanjang jalan utama dekat dengan stasiun Banyuwangi, mengingat sebenarnya jarak antara stasiun Banyuwangi dengan pelabuhan Ketapang hanya sekitar 1 km saja.

Lepas pukul 8 pagi, saya akhirnya masuk ke dalam stasiun Banyuwangi menuju rangkaian KA Mutiara Timur pagi yang telah siap di jalur satu. Cukup banyak juga penumpang yang akan naik saat itu, ada pula beberapa bule yang naik di kereta paling belakang. Kondisi pagi itu berawan dan tampak sedikit sinar matahari mengintip dari balik awan dan udaranya pun cukup sejuk karena pagi sekitar jam 5an sedikit gerimis. Dan tepat pukul sembilan pagi, kereta api Mutiara Timur pagi berangkat menuju kota Surabaya. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan alam yang indah, melintasi bukit, persawahan, perkebunan kopi dan hutan jati.

Lumayan lah merasakan liburan singkat yang seru naik kereta api disambung dengan naik bus dan kapal feri selama kurang lebih dua hari, semoga lain waktu saya ada kesempatan bisa lebih lama mengunjungi pulau Bali keliling tempat-tempat indah yang belum kesampaian.






Post a Comment
copyright dikamedia | 2016. Theme images by diane555. Powered by Blogger.