[Kancil & Monyet] Pisang yang Tak Kunjung Berbuah


 PISANG YANG TAK KUNJUNG BERBUAH
Yunizar Paraman
Kancil & Monyet

Seekor kancil berjumpa dengan monyet. Keduanya sudah lama bersahabat. Oleh sebab itu mereka sepakat berjalan bersama tanpa tujuan yang pasti. Di tengah jalan mereka menemukan serumpun pohon pisang. 

"Bagaimana kalau kita menanam pisang ?" usul kancil kepada monyet. Usul itu langsung diterima oleh monyet. Kancil mengambil sebatang anak pisang, sementara monyet mengambil sebatang pisang yang sudah berjantung. Kancil sebenarnya sudah menasihati monyet kalau tindakannya itu keliru. Pisang monyet nanti tidak akan berbuah karena jantung pisang itu nanti akan gugur dan batang pisang itu akan mati. Bukankah tidak ada pisang yang berbuah dua kali ? Tapi monyet tidak menggubrisnya.

Setelah keduanya menanam kembali pisang itu ditempat masing-masing, bila mereka berjumpa selalu menceritakannya.

"Kak monyet, bagaimana pisangmu ?"
"Jantung sudah keluar" jawab monyet dengan bangga.
"Pisang kak kancil bagaimana pula ?"
"Daunnya yang baru sudah ada beberapa helai ?" 

Di lain waktu, mereka berdialog kembali.

"Kak monyet, bagaimana pisangmu ?"
"Wah, sudah hampir keluar buahnya. Kulit-kulit jantung itu sudah mulai terlepas" Jelas monyet dengan sikap optimis.
"Kak kancil bagaimana pula ?"
"Pisang saya sudah berjantung pula" kata kancil dengan nada puas.

Suatu hari kancil melewati kebun monyet. Sahabatnya itu kelihatan bermuram durja.

"Hai kak monyet, kok termenung ? Ada apa gerangan ?" kata kancil prihatin.
"Pisangku mati !" kata monyet memelas.
"Itulah, aku katakan tempo hari. Pisang yang sudah berjantung tidak dapat dipindahkan lagi. Bila dipindahkan juga, itulah jadinya. Tapi kau tau usah bersedih, pisangku kan masih ada !"
Monyet terhibur juga dengan kata-kata kancil. Sebab, bila pisangnya sudah masak, tentu dia akan kebagian.

Dan, saat hari yang dinantikan pun telah tiba. 

Kancil pun bukan main gembiranya. Pisangnya-nya sudah masak. Satu tandan besar, ranum-ranum lagi. Tapi bagaimana memanjatnya ? 
Masalah itu segera sirna, bukankah dia punya sahabat yang jago memnajat ?
Siapa lagi kalau bukan monyet.

"Kak monyet !" seru kancil begitu kelihatan di tempat kediamannya.
"Ada apa gerangan ? Gembira benar kelihatannya !" sambut monyet gembira dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Lekaslah, pisangku sudah waktunya dipetik !"
"Oh ya ?" kata monyet tak kalah gembira.

Keduanya kini telah berada di bawah pohon pisang milik kancil. Air liur keduanya menetes takkala melihat pisang yang ranum-ranum itu. Setelah mendapat izin, monyet segera melompat dengan cekatan. Dalam sekejap monyet telah berada di atas batang pisang itu. Kini ia benar-benar tak dapat lagi mengendalikan dirinya. Begitu dipetiknya sebuah pisang langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. 
Semuila kancil masih sabar melihat pemandangan yang kurang berkenan di hatinya itu. Sebab menurut kancil, pisang itu diturunkan semuanya dulu, baru dimakan bersama.

Tapi setelah tiga buah pisang bersarang di perut moyet, kancil lalu berseru, "Kak monyet jatuhkan satu !'
"Ya tunggu sebentar" ujar monyet sambil tetap asyik makan pisang itu.
Kancil menunggu sejurus. 

Ketika pisang yang di petik berikutnya masuk keperut sahabatnya itu, kancil mengulang seruannya yang hampir bernada permohonan. Tapi jawab monyet masih sama. "Tunggu dulu"

Kesabaran kancil pun hilang, dia memutar pikirannya. Ini sahabat bukan main. dia harus diberi pelajaran yang setimpal. Kancil menggerutu sambil mengumpulkan rumput-rumput kering dibawah batang pisang. Setelah dirasa cukup, dia berseru, "Makan pisang itu semua sobat !"

Tiba-tiba monyet merasakan matanya perih. Ada apa ? 
Oh,asap, tak apa-apa !
"Asap apa ini Kak kancil ?"

Tak ada sahutan. Karena menganggap tak apa-apa, tangannya terus menggerayangi pisang-pisang itu dan memindahkannya ke dalam mulutnya. Perutnya yang telah sedari tadi penuh itu diisinya terus menerus. 
Kok, sekarang jadi panas, kata monyet dalam hatinya. Kini ia melihat kebawah. Apa itu ? Api ? 
Takut akan bahaya yang mengancam, secara reflek monyet itu melompat kebawah. Walaupun ada bulu-bulunya yang terbakar, namun ia masih selamat.

"Kancil...! Kancil...! Dimana kau ?"

Ketika monyet itu tak melihat sahabatnya lagi, dia memaki. 
"Kancil keparat, rakasan pembalasanku nanti !"

Namun sayangnya, monyet tidak menyadari apa kesalahannya !

Post a Comment
copyright dikamedia | 2016. Theme images by diane555. Powered by Blogger.