2 days trip : Semarang part 2

...

Setelah aku mengetahui apa yang hilang, mau ngga mau saya harus kembali ke Semarang untuk mengambil KTP saya yang tertinggal. Saya merencanakan untuk kembali ke Semarang menggunakan kereta api, karena lebih efisien dan tidak capek dibandingkan naik bus atau mobil seperti beberapa waktu yang lalu. Saya memilih untuk berangkat pada hari Jumat sore dengan menggunakan rangkaian KA Harina dan kembali menggunakan kereta api Majapahit dengan tujuan kota Malang. Saya memilih kereta Majapahit karena sekalian saya pulang kampung.. He..he..he..

Segera saja saya mencari tanggal yang pas untuk pulang ke Malang dengan sedikit 'mampir' ke Semarang untuk mengemban misi "Mengambil Kartu yang Tertinggal". Lumayan lah, hitung-hitung jalan-jalan keliling jalur kereta api. He..he..he.. Akhirnya pilihan jatuh pada tanggal 22 Maret dengan keberangkatan KA Harina jam 15.55 dari stasiun Surabaya Pasar Turi. Tiket KA Harina yang saya pesan seharga 165 ribu kelas bisnis. Tidak lupa saya memesan juga tiket KA Majapahit seharga 190 ribu dengan tujuan akhir stasiun Malang.

Dan, hari yang dinantikan pun telah tiba, saatnya bertolak menuju stasiun Surabaya Pasar Turi dengan diantar oleh kawan saya. Selepas saya tiba di stasiun, saya pun langsung bergegas menuju pintu masuk stasiun untuk proses check in. Kondisi kereta api saat itu lumayan bersih dan tidak terlalu ramai meskipun hari itu termasuk weekend bagi PT sepur. Tepat pada waktunya, KA Harina bertolak dari pasar turi menuju semarang tawang. Selama perjalanan kereta Harina tidak terlalu ngebut karena di beberapa petak masih terdapat proses pengerjaan double track. Proses pengerjaan double track lintasan kereta sendiri tidak secepat yang dibayangkan oleh banyak orang, karena banyak sekali halangan semisal bangunan yang terlalu dekat dengan rel kereta dan adanya banyak sungai yang butuh pembangunan jembatan yang besar.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih selama empat jam, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan karena saya merasa ngantuk & lelah, sehingga saya memilih untuk istirahat. Akhirnya kereta Harina perlahan memasuki area stasiun Semarang Tawang dan beristirahat sejenak selama setengah jam dan akan diberangkatkan kembali menuju perhentian akhir stasiun Bandung jam setengah sembilan malam. Setelah kereta Harina berhenti, saya bergegas untuk turun dari kereta dan langsung menuju hotel dimana saya menginap pada saat beberapa minggu lalu setelah kegiatan mengunjungi museum kereta api di Ambarawa.

Jarak antara hotel dengan stasiun Semarang tidaklah terlalu jauh, namun cukup membuat berkeringat juga. Berjalan kaki menyusuri jalan Merak lanjut belok kearah jalan Empu Tantular hingga menyebrangi sungai menuju jalan Kolenel Sugiono dimana hotel Oewa Asia berada. Langusng saja saya menuju reception desk untuk mengutarakan maksud dan tujuan saya, akhirnya kartu saya dapat saya peroleh kembali. Alhamdulillah, setidaknya KTP saya ngga hilang cuma nginep gratis aja, karena kartu itu benar-benar kartu sakti yang harus dijaga oleh setiap warga negara Republik Indonesia. Selepas misi tercapai dan saya bisa bernafas lega, saya mulai mencari menu makan malam, karena saya merasa mulai laparrr.... he..he..he..

Saya pun menyusuri jalanan kota Semarang yang tidak begitu ramai menuju jalan Pandanaran untuk menuju resto nasgor bandeng yang saya nilai memang enak rasanya. Tapi saya juga berpacu dengan waktu sebenarnya, karena kereta Majapahit yang saya tumpangi menuju kota Malang akan berangkat dari stasiun Semarang Tawang jam setengah sebelas malam. Kalau saya lengah bisa-bisa saya ketinggalan kereta api. Mengingat saat itu jam sudah menunjukkan sekitar jam sembilan malam. Artinya saya punya waktu sekitar satu jam untuk berkelana kota Semarang sebelum nanti saya harus sudah bersiap diri di stasiun Semarang Tawang sebelum kereta datang. 

Selepas saya menyantap menu nasi goreng bandeng yang lezat, kini saatnya kembali menuju stasiun Semarang Tawang, namun sebelum itu saya tidak lupa menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh berupa ikan Bandeng khas kota Semarang. Setelah proses memilih dan membeli selesai, saya mengarahkan kaki menyusuri jalan Pandanaran menuju simpang lima dan berbelok menuju jalan Gajahmada hingga melintasi jalan Pemuda. Saya pun lanjut menyusuri jalan Pemuda di kegelapan malam kota Semarang hingga jalan Empu Tantular dan berbelok kearah stasiun Semarang Tawang. Saya pun tiba di stasiun sekitar jam sepuluh lebih, namun kereta Majapahit yang akan saya naiki belum datang di stasiun Semarang. Selepas check in, saya menantikan kedatangan kereta Majapahit dengan bersantai di peron satu sambil melepas lelah sehabis 'olahraga' malam yakni jalan kaki.

Sekitar jam 10.15 kereta majapahit datang dari arah barat memasuki jalur 3 stasiun Semarang Tawang dan di susul beberapa menit kemudian kereta Majapahit dari arah timur masuk di jalur 1. Kedua kereta yang bernama sama bertemu di stasiun Semarang Tawang dengan tujuan yang berbeda pula. Selepas saya menemukan kursi saya dan menata barang bawaan saya, saya pun bersiap untuk istirahat karena saya merasa sudah lelah. Entah berapa lama saya terlelap dalam tidur, karena sewaktu saya bangun, kondisi langit sudah mulai berubah menadakan matahari segera muncul di ufuk timur. Kondisi kereta juga lumayan dingin karena hembusan AC yang lumayan kenceng membuat banyak dari kami yang merasa kedinginan dengan kondisi AC sedingin itu. Perjalanan menuju kota Malang diperkirakan akan tiba jam delapan pagi. Namun saat itu kereta masih berada di daerah Kediri.

Selama perjalanan dari Kediri hingga Malang banyak disuguhi pemandangan yang menakjubkan mata, banyak area persawahan, perkebunan maupun hutan jati yang menghiasi kiri kanan kereta. Dan tidak ketinggalan pula melintasi terowongan di daerah Sumberpucung, Kab. Blitar karena terdapat bendungan karang kates dan wlingi di atasnya. Hingga akhirnya kereta Majapahit telah tiba di stasiun Malang pukul setengah sembilan pagi, meskipun telat namun tidak terlalu lama dari jadwal yang tertera dari tiket. Dan ternyata saya mengamati tidak sedikit pula penumpang KA 94L Majapahit yang turun dari kereta, mengingat sebenarnya kereta ini merupakan kereta kelas ekonomi non subsidi, dibandingkan dengan kereta ekonomi Matarmaja yang harganya murah meriah.. :p


Demikian rangkaian kisah perjalan saya menuju kota Semarang hingga kembali lagi ke kota Malang, 
semoga anda terhibur ya.. :D
 
Post a Comment
copyright dikamedia | 2016. Theme images by diane555. Powered by Blogger.